Jadikan Perbedaan Sebagai Sesuatu yang Dinamis

ImagePerbedaan ibarat dua mata pisau yang saling berlawanan. Di satu sisi tumpul, namun di sisi lain tajam. Di dalamnya terdapat potensi negatif dan positif yang menjadi konsekuensi dari perbedaan itu. Namun potensi tersebut bisa dikendalikan dan dirawat agar aura negatifnya berubah menjadi positif. Misalnya kekerasan berlabel agama yang kerap muncul dari perbedaan bisa diminimalisir melalui pemahaman keberagaman dan toleransi. Sikap saling menghargai tersebut dapat menjadikan perbedaan sebagai sesuatu yang dinamis (positif).

Dosen Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ainul Yaqin mengatakan, banyak hal yang bisa dilakukan agar perbedaan tidak menjadi problem dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah dengan cara saling menghargai dan memahami perbedaan yang ada. Hal tersebut bisa dilakukan melalui sarana pendidikan.

Penulis buku ‘Pendidikan Multikulturalisme’ ini mengatakan, pendidikan memiliki peran penting dalam membangun pemahaman keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Pendidikan dan pemahaman kemajemukan ini sebagai upaya preventif untuk semakin mengecilkan benih ide-ide radikalisme yang muncul karena perbedaan.

“Pendidikan sangat berperan. Tapi kemauan pemerintah, hukum dan pemerataan ekonomi harus bersinergi, sehingga lambat laun radikalisme itu bisa terkikis. Kalau dihilangkan mungkin agak susah. Saya kira di negara lain seperti Amerika dan Eropa juga masih ada persoalan radikalisme ini,” kata Ainul Yaqin pada Lazuardi Birru.

Radikalisme Islam di Indonesia bisa Dilacak dari Perang Padri

ImageRadikalisme dan terorisme di Indonesia adalah anomali keberislaman di negeri ini. menurut Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Khamami Zada, fenomena radikalisme Islam sebenarnya tidak muncul di awal-awal masuknya Islam di Indonesia.

“Corak Islam Indonesia dalam penyebaran awalnya justru mampu berakomodasi dengan masyarakat, jadi terjadi akulturasi antara Islam dengan budaya masyarakat. Jadi watak dasar penyebaran awal Islam di Indonesia adalah toleran dan moderat” kata Khamami Zada.

Tidak adanya corak radikal dalam Islam di masa awal terbukti dari hampir seluruh tradisi Hindu-Budha tidak dimusnahkan tetapi diakomdasi dan diisi dengan warna Islam.

Munculnya Islam arus radikal baru pada masa-masa setelahnya. Menurut Khamami Zada peristiwa sejarah perang Padri bisa dijadikan titik tolak sejarah munculnya radikalisme Islam di Indonesia. Perang yang terjadi di Sumatera Barat ini adalah antara kaum adat yang sebenarnya muslim juga dengan kaum putihan, muslim berpaham Wahabi.

“Kalau kita lihat secara teori radikalisme muncul karena ada keinginan merubah system, lalu perubahan tersebut dilakukan dengan cara kekerasan. Itulah yang kemudian kelompok islam beraliran Wahabi melakukan penyerangan terhadap keyakinan masyarakat baik fisik misalnya dalam kasus Perang Padri” ungkap Khamami Zada.

Hate Speech Itu Benih Terorisme!

ImageBanyak orang begitu enteng menyatakan orang lain sebagai sesat, kafir, dan halal darahnya. Bahkan ada beberapa penceramah agama yang dalam banyak kesempatan mengulang-ulang kata-kata yang menebarkan kebencian (hate speech) tersebut. Mereka seolah tidak sadar bahwa kata-kata kasar itu merupakan benih terorisme lantaran memprovokasi orang lain untuk melakukan kekerasan.

“Terorisme itu ujungnya. Yang sangat saya sayangkan adalah hate speech berbasis agama. Sekarang di rumah-rumah ibadah banyak sekali kata-kata kebencian yang keluar justru dari orang yang katanya ahli agama atau bekerja untuk mendakwahkan agama,” ungkap Nia Sjarifuddin, Ketua Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) kepada Lazuardi Birru saat berbincang soal problem kekerasan atas nama agama di Indonesia.

“Saya tidak mengerti bagaimana para agamawan mengembangkan karakter keagamaan diri dan jamaatnya dengan cara menebarkan kebencian kepada kelompok lain,” imbuh dia

Ia berkisah tentang pengalaman dirinya saat putranya yang kala itu duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar tiba-tiba bertanya, “Ibu, siapakah orang kafir? Apakah orang kafir boleh dibunuh? Apakah orang kafir harus dibenci?” Terhenyak dengan pertanyaan itu, Nia balik bertanya kepada buah hatinya dari mana ia mendapatkan kata-kata tersebut?

“Ternyata anak saya justru mendengar kata-kata itu dari khatib shalat Jumat di salah satu masjid dekat sekolahnya,” kenang Nia.

Ia menyayangkan tidak adanya kontrol dan aturan tegas dari pemerintah mengenai hate speech ini. Selain itu masyarakat sipil juga tidak bisa menjadi gerakan kontrol atas hal tersebut.

“Bisa jadi sebagian merasa risih atas ucapan-ucapan itu, namun karena harus beribadah dan tidak ada pilihan tempat mereka hanya bisa mendengar. Saya berharap masyarakat memiliki filter yang kuat,” ujarnya.

Namun apakah hate speech berkorelasi dengan terorisme? “Beberapa hasil survei terakhir menyebutkan bahwa ceramah-ceramah keagamaan yang menebarkan kebencian mendorong orang untuk melakukan aksi-aksi radikalisme,” jawabnya.

Ia mengusulkan agar aturan hate speech digodok dalam musyawarah para pengambil keputusan dengan melibatkan para tokoh agama perwakilan pelbagai Ormas keagamaan.

“Semestinya soal perbedaan mazhab dan akidah dapat dibicarakan dalam forum-forum diskusi ilmiah yang menjunjung tinggi etika akademis, bukan dalam ruang publik yang saling menghujat satu sama lain,” tandasnya.

Nia mengapresiasi tindakan kepolisian yang cukup berhasil mencegah aksi-aksi teror melalui serangkaian penangkapan. Namun dalam hematnya, jika Negara membiarkan hate speech, itu sama saja Negara melakukan pemeliharaan atas bibit terorisme.

Revitalisasi Fungsi Keluarga Cegah Infiltrasi Ideologi Radikal dan Teror

ImageKeterlibatan usia muda pada gerakan-gerakan radikal atau bahkan teroris sejatinya merupakan tamparan yang sangat keras bagi institusi sosial yang terkecil, keluarga. Keluarga yang seharusnya tempat pendidikan yang paling mendasar dan perlindungan anak berubah menjadi ruang asing dan sedemikian hingga mereka mencari ruang-ruang lain.

Terlebih lagi usia belia adalah episode petualangan mencari bentuk diri. Bukan sebuah kebetulan jika anak-anak usia belia ini bertemu dengan para radikalis dan teroris yang menyamar menjadi mentor-mentor agama.

Menurut Dosen UIN Syarif Hidayatullah, A’lai Najib, anak-anak belia yang terlibat dalam radikalisme atau terorisme hidup dalam sebuah keluarga yang fungsi-fungsinya tidak utuh kembali.

“Misalnya begini, ada keluarga yang memang orang tuanya sudah sangat sibuk dan tidak punya kontrol sama sekali. Fungi sebagai keluarga maksud saya seperti ini, ada percakapan antara orang tua dan anak. Percakapan itu bisa lewat media apa saja” ungkap A’lai Najib.

Orang tua terlalu sibuk dengan kesehariannya sehingga tidak memiliki koneksi dan kontrol lagi terhadap anak-anak mereka. Konsekuansinya percakapan dari hati ke hati pun menjadi nihil. Padahal komunikasi yang terbuka dan tanpa tekanan adalah hal yang sangat dibutuhkan setiap orang terlebih usia-usia muda.

Pers Indonesia Sukses Mengelola Isu Konflik dan Terorisme

ImageAliansi Jurnalis Independen (AJI) diundang Internasional Federation of Journalist (IFJ) Asia Pasifik untuk menjadi pembicara dalam pertemuan jurnalis internasional di Pakistan yang membahas masalah “Demokrasi dan Keselamatan Jurnalis”. Hal tersebut disebabkan pers Indonesia dinilai berhasil mengelola isu konflik dan terorisme.

“Mereka (IFJ Asia Pasifik) meminta AJI Indonesia untuk menjadi pembicara dalam forum tersebut, karena AJI dan pers Indonesia pada umumnya, dinilai berhasil dalam mengelola isu-isu konflik, terutama yang berkaitan dengan masalah ekstremisme agama,” ungkap Ketua AJI Indonesia, Eko Maryadi di sela acara Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ) di Malang, Jawa Timur, Sabtu (26/1) malam.

Pertemuan jurnalis internasional merupakan kegiatan tahunan yang kali ini diselenggarakan di Pakistan, oleh Aliansi Jurnalis Pakistan yang berafiliasi di bawah payung IFJ, pada 8-15 Februari.

Dijelaskan, isu demokrasi dan keselamatan jurnalis menjadi tema sentral dalam kegiatan tersebut karena kasus kekerasan di salah satu negara di wilayah Asia Selatan itu tergolong sangat tinggi.

Dalam kurun dua tahun terakhir ini saja, kata Eko, data IFJ menyebut setidaknya telah terjadi pembunuhan terhadap 14 orang jurnalis di Pakistan.

Kekerasan di negara yang menjadi salah satu hotspot ektremisme agama tersebut bahkan tersebar di berbagai wilayah negara tersebut, mulai di Islamabad, Karachi, Kandahar, dan sejumlah daerah lainnya.

“Teman-teman dari Aliansi Jurnalis Pakistan memandang Indonesia cukup berhasil dalam mengelola isu-isu terorisme, termasuk medianya, sehingga akan menjadi teladan dalam pengelolaan isu serupa di negara mereka,” terangnya.

Salah satu parameter keberhasilan AJI dan pers Indonesia dalam pengelolaan isu ekstremisme dan terorisme adalah tidak terjadinya eskalasi konflik. Menurut Eko, meski AJI Indonesia memandang sebagian pers nasional masih kurang kritis dalam menginformasikan keterangan-keterangan dari pihak kepolisian, namun di bagian-bagian lain media di Indonesia cukup berhasil dalam memberitakan kejadian terorisme secara berimbang.

Munculnya berbagai ulasan yang membahas sebab-musabab maupun akar yang menyebabkan terjadinya aksi terorisme, serta pemberitaan atas korban ekstremisme agama dinilai mampu ikut meredam terjadinya eskalasi konflik lebih luas.

Sumber: Antara

Jadikan Karakter Nabi Muhammad Way of Life

ImagePeringatan Maulid Nabi Muhammad seharusnya dapat dijadikan momentum dalam perbaikan akhlak manusia. Dengan memeringati Maulid Nabi setiap tahunnya, masyarakat diingatkan untuk meneladani sifat dan karakter sosok Muhammad SAW.

Menurut Ketua Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Marwah Daud Ibrahim, sifat dan karakter Nabi Muhammad harus dijadikan jalan hidup atau ‘way of life’ bagi masyarakat.

Sebab, semua karakter yang ada di sosok Muhammad dapat dijadikan keteladanan mennuju masyarakat Madani. Sifat Muhammad akan selalu sesuai dengan konteks dunia kapanpun. “Semua akhlak Muhammad selalu kontekstual,” kata Marwah.

Marwah menambahkan, yang saat ini hilang di bangsa Indonesia adalah sifat kejujuran. Satu sifat inilah yang saat ini langka ada di masyarakat Indonesia. Pasalnya, semua berlaku seolah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tertentu.

Artinya, bangsa Indonesia sangat butuh keteladanan sifat Muhammad untuk mengembalikan jati diri bangsa. Hal itu harus dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter Muhammad di semua sektor.

Baik kepemimpinan melalui politik, sistem ekonomi, sosial budaya serta dimasukkan dalam sistem pendidikan Nasional. Melalui itulah sifat dan karakter nabi Muhammad akan jadi ‘way of life’.

“Zikir dan ceramah saja tidak cukup, harus total terintegrasi dalam kehidupan masyarakat,” tambah dia.

Meskipun ada faktor-faktor yang membedakan zaman dan kondisi masyarakat, tambah Marwah, esensi nilainya tetap sama. Semua itu sudah digambarkan dengan jelas melalui sosok Muhammad.

MUI: Perayaan Agama Tak Boleh Ganggu Ketertiban Umum

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melarang perayaan agama yang mengganggu ketertiban umum. Perayaan apa pun tidak boleh mengganggu hak orang lain untuk menggunakan fasilitas publik. Meskipun hal itu kegiatan seperti zikir atau pengajian yang dilakukan umat mayoritas negeri ini.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amidhan mengatakan, perbuatan yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik juga. Jangan sampai kegiatan yang ditujukan untuk kebaikan justru menimbulkan kesulitan bagi pihak lain.

Karenanya, setiap masyarakat harus bisa menghormati kepentingan umum. Kalau ada pengajian atau zikir bersama, kata Amidhan, jangan sampai menutup jalan.

“Yang tidak boleh itu mengganggu ketertibannya, bukan kegiatan zikirnya,” kata Amidhan, Selasa (22/1/2013).

Amidhan menambahkan, kondisi di Jakarta sedikit berbeda dengan daerah lain. Di Jakarta, kata dia, masjid dibangun lebih dulu sebelum ada pelebaran jalan. Setelah ada pelebaran jalan, halaman masjid jauh berkurang. Sebab itu, tambah dia, tidak heran kalau jamaah shalat Jumat hingga ke jalan-jalan. Bahkan, sampai menutup jalan di gang.

“Tapi harusnya memang jangan sampai menutup jalan,” tegas dia.

Sumber: republika.co.id