Anak Kita Bisa Jadi Teroris!…

Anak Kita Bisa Jadi Teroris!...

PARA teroris yang kini the most wanted itu, yang kita kecam itu, yang tiap hari menjadi headline media itu, bisa saja kelak kadernya berasal dari rumah kita. Anak-anak kita. Haha, mungkin saya menakut-nakuti. Tapi, kalau ternyata Anda takut juga, jauh lebih baik daripada tenang-tenang saja dan menyesali seumur hidup karena tiba-tiba anak kita yakin bahwa jalan terbaik untuk mencapai surga itu lewat mengebom para musuh.

Sebaliknya, kalau takut, Anda pasti segera peduli untuk menjaga anak-anak agar tidak tergelincir pada keyakinan bahwa yang tidak sama dengan dirinya adalah musuh yang berhak dibunuh. Tapi, rahmat. Warna-warni kehidupan yang indah.

Anda pasti tidak percaya anak-anak kita siap menjadi “pengantin” -orang yang mendedikasikan diri untuk melakukan bom bunuh diri. Mengapa? Sebab, anak kita manis-manis saja di rumah. Sama hantu saja takut, sama tikus saja terbirit-birit, sama mercon saja tak punya nyali untuk menyalakan, bagaimana bisa merelakan perutnya dipasangi bom bunuh diri?

Ya, memang sepertinya tidak mungkin. Tapi, tunggu dulu. Itu persoalan keyakinan. Itu persoalan faith, persoalan believe. Kita tahu betapa dahsyatnya iman. Pernah dengar pepatah berikut kan? Jika ingin hidup setahun, tanamlah jagung. Jika ingin hidup sepuluh tahun, tanamlah pohon. Jika ingin hidup selamanya, tanamlah iman.

Faith yang kuat membuat puncak tertinggi di dunia, Himalaya, hanya bagai Gunung Bromo bagi yang tak punya kaki sekalipun. Pernah mendengar kisah-kisah dahsyat seperti itu kan? Termasuk bagaimana Thomas Alfa Edison yang divonis gurunya tak bisa melanjutkan sekolah karena IQ dan pendengaran yang dianggap kurang. Berkat keyakinan yang kuat, dia bereksperimen ribuan kali. Hasilnya adalah bohlam yang kita nikmati tiap hari itu.

Apalagi berdasar segi agama, pada bulan puasa seperti sekarang banyak sekali dokter yang menggeleng-gelengkan kepala karena pasien yang direkomendasikan untuk tidak puasa dulu akibat sakit tetap saja berpuasa dan ternyata kuat, bahkan justru penyakitnya sembuh, the mystery of faith.

Dan kisah terdahsyat adalah bagaimana Bilal tiada henti menyebut ahad ahad (untuk mangatakan Tuhan Yang Esa) tatkala digebuki kaum Quraisy yang memintanya tidak usah mengikuti ajaran Muhammad SAW.

***

Lalu, apa hubungan keimanan dengan teroris? Nah, begitu kita mengetahui betapa powerful-nya iman, anak-anak kita harus dijauhkan dari brain washed (cuci otak) bahwa berjuang di jalan Allah boleh saja dilakukan dengan menyakiti siapa saja, membunuh siapa saja, dan mengebom siapa saja.

Kedengarannya sederhana, tapi sesungguhnya tidak. Mengapa? Sadar atau tidak, tiap hari kita mendoktrin anak bahwa keyakinan yang kita anutlah yang benar dan kita senang sekali jika anak patuh. Betapa senangnya kita sebagai orang tua jika salat lima waktu anak kita yang masih belia itu rajin, puasa Senin-Kamis juga tertib, serta sepertiga malam terakhirnya dipakai untuk bersimpuh kepada Allah. Wah, kita meneteskan air mata haru. Anda berhak bangga dengan punya anak yang saleh seperti itu.

Anda bersyukur sekali sambil membatin, insya Allah kelak kalau sudah meninggal saya memperoleh berkah yang tak putus karena doa anak yang saleh.

Itu iman yang sangat positif dan kita idamkan. Tapi, jangan sampai tergelincir bahwa siapa saja yang berbeda keyakinan dengan kita dikatakan musuh, berhak dilawan, dan tak dijadikan kawan. Akibatnya, jika telah merasuk pada keyakinan anak kita, cuci otak seperti itu menjadi berbahaya. Itulah awal lahirnya pikiran ekstrem. Sesuatu yang tidak sama adalah musuh. Apalagi, di tangan pendoktrin, bisa ditambahkan keyakinan bahwa orang seperti itu adalah musuh Allah. Karena itu, darahnya halal. Membunuhnya berimbalan surga.

Untuk mencegah anak-anak kita dari pikiran ekstrem seperti itu, perlu kita biasakan menghadapi perbedaan. Jangan biasakan berpikir eksklusif, berteman eksklusif, hanya berkumpul di lingkungan yang eksklusif. Akibatnya, anak-anak kita tidak terbiasa melihat kehidupan yang beda. Di luar sana ada orang yang berjenggot dan bercelana di atas mata kaki, ada yang bercadar, ada yang bermata sipit, ada yang bercelana pendek dan mengenakan tank top di mal.

Ada yang merokok saat berpuasa seperti sekarang, ada yang makan di Pizza Hut, bahkan ada yang jadwal puasanya mendahului puasa anak-anak kita. Selain itu, ada yang salat Subuh dengan membaca kunut, ada yang salat Tarawih dan Witir sebanyak 21 rakaat maupun 11 rakaat. So diverse. Sangat berwarna-warni.

Pasti anak kita bertanya mengapa. Itulah saat tepat menjelaskannya. Jangan terperangkap pada ekstremisme. Sebaliknya, anak harus kita bawa pada pikiran yang terbuka, open mind, broad mind bahwa setiap orang berhak atas keyakinan sendiri-sendiri. Masing-masing meyakini kebenarannya. Itulah rahmat.

Jika anak kita telah terbiasa menghadapi dunia yang penuh warna-warni ini, kelak kita tidak ragu lagi melepaskan kalau anak, misalnya, berkesempatan ke Amerika. Anak tak lagi canggung. Saat menghadapi wanita-wanita yang merokok, dia tidak lantas berpikiran bahwa para wanita itu pasti nakal. Pernah mendengar salah satu kisah anggota dewan kita yang pergi ke Australia dan menggerayangi wanita di sebelahnya?

Nah, anggota dewan tersebut mungkin punya stereotip bahwa cewek bule yang mengenakan baju seksi merupakan cewek gampangan. Padahal, di negeri bebas seperti itu, bukan berarti seseorang bebas berbuat seenaknya kepada mereka. Bahkan, bersiul saja di depannya, kita bisa masuk penjara karena dianggap melakukan sexual harassment.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s