Muslim Diharapkan Tidak Reaksioner

Muslim Diharapkan Tidak ReaksionerJakarta, FaktaPos.com– Persepsi negatif terhadap Islam dapat diubah dengan melakukan perubahan dalam cara pandang umat Islam sendiri. Umat Islam kadang bersikap reaksioner, cenderung memandang negatif dan tidak seimbang dalam setiap persoalan termasuk soal persepsi negatif tentang Islam.

Seperti misi pembalasan terhadap Amerika dan sekutunya yang dinilai berlaku zalim terhadap negara-negara muslim, menjadi dalih atas aksi terorisme di bumi Indonesia. Para pelaku mengklaim bahwa tindakannya dipicu ulah provokasi Amerika dan sekutunya. Selain itu pasca peristiwa 11 September 2001, image Islam sebagai agama rahmatan lil alamin tercoreng karena dikaitkan dengan aksi terorisme yang dilakukan kelompok Al-Qaidah. Karena itu, tugas umat Islam adalah mengembalikan citra Islam sebagai agama pembawa kedamaian dan tidak ada kaitannya dengan tindak terorisme.

“Inilah kelemahan umat Islam, saking fanatis dan kuatnya membanggakan agama hingga tidak kuat mengendalikan emosinya,” kata mantan terpidana kasus terorisme Nasir Abbas.

Menurutnya, hal ini justru dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam dengan menuduh Islam sebagai teroris. Sebagian umat Islam lalu terpancing amarahnya dengan menyerang dan mengebom kepentingan Amerika dan sekutunya. Dampaknya, stigma itu justru dikuatkan sendiri dengan tindakan sebagian oknum yang merasa dirinya membela Islam.

“Umat Islam itu suka latah, bereaksi spontan tanpa berpikir panjang. Ketika Geertz Wilders, politisi di parlemen Belanda, membuat film provokatif yang menyudutkan Islam, dan seorang kartunis Denmark menggambar Nabi Muhammad membawa bom, sebagian dari kita lantas melakukan protes dengan perusakan, ini kan kontraproduktif,” keluh Nasir.

Dengan tindakan reaksioner tersebut malah membenarkan tuduhan bahwa umat Islam itu ganas. Mestinya, demikian pria asli Malaysia ini menyarankan, umat Islam khususnya di Indonesia, bersikap bijaksana, tidak perlu melakukan kekerasan untuk merespon apa pun fakta yang memojokkan Islam.

Nasir mengakui, siapa pun bisa terprovokasi. “Kita juga terprovokasi saat Amerika menyerang Afghanistan dan Irak. Tapi kita kan berpikir jernih, apa respon yang tepat untuk menyikapi itu,” katanya.

Maka Nasir tidak setuju dengan dalih bahwa pelaku teror terprovokasi. Perihal pemicu teror ia melihat, ada doktrin yang ditekankan untuk dilaksanakan yaitu seruan pembalasan. Itulah yang dibesar-besarkan oleh Osama bin Laden.

“Karena Osama punya nama besar pada era Taliban. Dia menjadi panutan. Apa saja yang dikatakan Osama, dibenarkan saja. Ini ditambah dengan sikap latah sebagian umat Islam yang mendahulukan emosi. Jadilah aksi teror merebak di sini,” ungkapnya.

Nasir sendiri kerap bertanya kepada pelaku tentang motif tindakan mereka, apakah tindakan teror yang mereka klaim sebagai jihad itu murni karena mencari ridha Allah atau karena marah terhadap Amerika?

“Pasalnya, jika dilandasi kemarahan berarti tidak lagi ikhlas demi Allah. Dan batal lah klaim mereka,” tegas Nasir.

Nasir berkaca melalui sejarah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Beliau pernah batal menebas leher musuh di medan peperangan karena sebelumnya diludahi oleh sang musuh. Padahal musuh sudah merasa bangga karena akan mati di medan pertempuran, sehingga dia bertanya apa alasannya?

“Sayyidina Ali menjawab, ‘jika aku membunuhmu karena marah telah kamu ludahi, lebih baik aku tidak membunuh kamu.’ Itulah teladan perang yang sesungguhnya. Berperang itu bukan karena marah hingga membabi-buta. Dalam peperangan tetap ada etika. Nah, aksi teror yang marak sekarang karena marah, itu kan nggak benar,” papar alumni pelatihan militer Afghanistan ini.

Bahkan menurutnya, aksi teror belakangan yang mengincar polisi sebagai target, sama sekali tidak terkendali, otodidak, dan tidak mengusung tujuan selain melampiaskan kemarahan pada aparat. “Itulah mengapa umat Islam harus kita cerdaskan,” imbuhnya.

Sementara itu Imam Masjid Al-Hikmah New York, Shamsi Ali mengatakan, persepsi negatif terhadap Islam dapat diubah dengan melakukan perubahan dalam cara pandang umat Islam sendiri. Menurut Shamsi, umat Islam kadang bersikap reaksioner, cenderung memandang negatif dan tidak seimbang dalam setiap persoalan termasuk soal persepsi negatif tentang Islam. “Kita harus mencontoh Rasulullah dalam hal ini,” kata dia, seperti dikutip republika, (21/02).

Sebagai contoh saja, lanjut Shamsi, dalam usaha Nabi Muhammad SAW membebaskan kota suci Mekkah. Ia menerima perjanjian Hudaibiyah yang melarang umat Islam untuk memasuki kota Mekkah. Umat Islam selanjutnya dihasut dengan beragam pandangan negatif. Bagi sahabat perjanjian itu tidaklah adil. Namun bagi Nabi Muhammad SAW, perjanjian itu merupakan modal umat Islam untuk memasuki Mekkah.

Contoh lain, lanjut dia, di AS ada pendeta yang memiliki niatan membakar Alquran. Bagi komunitas Muslim AS, niatan buruk itu menjadi peluang untuk membuka pandangan masyarakat AS tentang Alquran. “Mereka tentu penasaran, mengapa pendeta itu begitu membenci Alquran,” ungkapnya.

Peluang itu lalu dimanfaatkan dengan membagi-bagikan secara gratis Alquran. Akhirnya mereka menjadi tahu tentang Alquran. “Jadi, cara terbaik mengubah persepsi, ubah terlebih dahulu diri kita sendiri dalam menghadapi masalah,” pungkasnya.

Muslim diharapkan tidak reaksioner menanggapi isu-isu agama, baik diluar maupun dalam negeri. Termasuk dalam konteks mulai merebaknya bentrok antar kelompok yang bersifat horisontal. Miris melihatnya sesama umat beragama saling bertikai atas permasalahan sepele, yang kemudian menjadi besar dan membawa label agama.

Kesadaran berbangsa dan bernegara ini harus dilandasi konsep toleransi yang kuat agar sesama warga bangsa Indonesia tidak mudah terprcah belah. Seandainya mulai sekarang kita membiasakan menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan mufakat, niscaya kedamaian, ketentraman dan keamanan berlangsung di bumi nusantara yang kita cintai ini. Hanya kemauan dan kesadaran menjaga kebersamaan dan persatuan lah yang mampu menjawab tantangan tersebut. Maukah kita? Wallahu a’lam bisshowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s