Kita Butuh Pemimpin Yang Amanah Dan Menjaga Kebhinekaan

ImageJakarta, FaktaPos.com – Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya, Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya. (HR Bukhari)

Sesungguhnya, dalam Islam, figur pemimpin ideal yang menjadi contoh dan suritauladan yang baik, bahkan menjadi rahmat bagi manusia (rahmatan linnas) dan rahmat bagi alam (rahmatan lil’alamin) adalah Muhammad Rasulullah Saw., sebagaimana dalam firman-Nya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.al-Ahzab [33]: 21).

Sebenarnya, setiap manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap seluruh metafisik dirinya. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas segala kepemimpinannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Saw., yang maknanya sebagai berikut : “Ingatlah! Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin bagi kehidupan rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya. Ingatlah! Bahwa kalian adalah sebagai pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya,” (Al-Hadits).

Kemudian, dalam Islam seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni : Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah (STAF):

(1) Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya; (2) Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi; (3) Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya; (4) Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya.

Selain itu, juga dikenal ciri pemimpin Islam dimana Nabi Saw pernah bersabda: “Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut.” Oleh sebab itu, pemimpin hendaklah ia melayani dan bukan dilayani, serta menolong orang lain untuk maju.

Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Artinya, kepemimpinan (style of the leader) merupakan cerminan dari karakter/perilaku pemimpinnya (leader behavior). Perpaduan atau sintesis antara “leader behavior dengan leader style” merupakan kunci keberhasilan pengelolaan organisasi; atau dalam skala yang lebih luas adalah pengelolaan daerah atau wilayah, dan bahkan Negara.

Sementara itu mantan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla (JK) mengatakan bahwa Indonesia sebagai bangsa yang besar, membutuhkan pemimpin yang baik untuk merawat kebhinekaan.

“Pemimpin yang baik harus punya kepekaan terhadap nasib rakyatnya secara adil dan mampu pula merawat kebhinekaan ini,” kata Jusuf Kalla saat menjadi pembicara dalam seminar dan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) di Makassar, Sabtu (12/05).

Menurutnya, kepekaan seorang pemimpin terhadap nasib rakyatnya, hanya bisa timbul jika pemimpin itu memiliki jiwa melayani. Karena itu, tidak cukup negara ini memiliki pemimpin yang cerdas dan pintar saja, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap nasib rakyatnya.

“Apalagi dengan kondisi geografis yang berpulau dan masyarakat yang beraneka ragam suku, agama dan budaya itu,” kata JK.

Mantan Menkokesra itu menjelaskan, tujuan dibangunnya negara ini, adalah untuk memberikan kesejahteraan, adil dan makmur kepada seluruh rakyat Indonesia.Menurut dia, negara Indonesia adalah negara besar yang memiliki sumber daya dan kekayaan yang cukup untuk memberikan kemajuan ekonomi untuk kesejahteraan rakyatnya.

Namun, jika tidak dikelola melalui kepemimpinan yang memiliki kepekaan yang baik kepada masyarakat, maka tidak akan ada gunannya.

“Disinilah letaknya persoalannya. Kita butuh pemimpin yang merakyat, sehingga peka terhadap nasib rakyatnya,” katanya.

JK yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PMI itu mengatakan, ketiadaan pemimpin yang peka dan merakyat terhadap rakyat, akan memicu kondisi ketidakadlian dan ketidaksejahteran bagi masyarakat.

“Jika itu kondisinya, maka konflik sosial lintas masyarakat akan mudah terjadi, seperti yang kita rasakan dan lihat di beberapa tempat di Indonesia saat ini,” tandasnya.

Ia berpendapat dari 14 jumlah konflik sosial di Indonesia yang terjadi, sejak awal kemerdekaan hingga saat ini, 10 di antaranya karena ketidakadilan ekonomi, sosial dan politik.

Ketidakadilan ekonomi, sosial dan politik, lanjut JK, jika tidak ditangani secara cepat dan serius akan mudah bergeser ke konflik suku, agama, ras dan antargolongan.

“Itulah yang kemudian memicu terjadinya konflik di Indonesia. Sebenarnya penyebabnya adalah ketidakadilan, bukan karena masalah agama atau suku,” kata JK.

Untuk itulah, penting bagi pemimpin negara ini agar lebih peka dalam meningkatkan ekonomi masyarakat untuk kesejahteraan yang berkeadilan, sehingga tidak lagi terjadi kesenjangan antarmasyarakat.

“Dengan begitu, kebhinekaan Indonesia bisa dirawat demi keamanan dan kedamaian di negara ini,” demikian Jusuf Kalla.

Sementara itu Tokoh Cendekiawan Muslim Indonesia Syafii Maarif menilai Indonesia memerlukan pemimpin yang punya leadership dan visioner untuk merencanakan masa depan Indonesia ke arah lebih baik.

“Semua tanggung jawab suatu negara itu bertumpu utama pada pemimpin walaupun rakyat dan pendukung di bawahnya turut serta. Oleh karena itu Indonesia butuh pemimpin yang punya leadership dan memiliki visi masa depan. Jangan jual tampang saja,” kata dia.

Menurutnya, masa depan Indonesia menghadapi berbagai permasalahan seperti penegakan hukum yang belum jelas serta ketidakberdayaan aparat. “Mereka tidak mampu bekerja sendiri. Status negara hukum tidak berjalan,” katanya.

Lebih lanjut Buya Syafii mengemukakan pasca Orde Baru keran demokrasi Indonesia terbuka sangat lebar sehingga terlalu banyak yang dibuka dan kebablasan. “Karena tidak ada sosok pemimpin yang kokoh akhirnya yang muncul politisi mendadak. Oleh karena itu untuk mengisi kekosongan demokrasi, dibutuhkan sosok karakter yang tidak berharap apa-apa untuk diri sendiri. Jangan diisi oleh orang-orang yang berpikir kapitalis saja,” tegas Buya.

Kerinduan bangsa Indonesia terhadap sosok pemimpin yang ideal sungguh sangat mendalam. Penantian itu semoga akan terwujud demi perbaikan kondisi bangsa, baik disisi ekonomi, sosial dan budaya. Wallahu ‘alam bis showwab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s