DETIK-DETIK KEMATIAN SANG KEKASIH

ImageSuatu pagi, ketika langit dihangatkan mentari, gurun menampakkan batang hidungnya, Madinah tampak berbeda dari biasanya. Kabar Rasulullah SAW sakit memang sudah terdengar ke seluruh negeri.
Untuk menjawab kerinduan umat, Rasulullah SAW dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Al-Qur’an dan Sunah. Barangsiapa mencintai sunahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”
Khutbah singkat itu merupakan isyarat dari baginda Nabi untuk mengakhiri tugasnya sebagai Rasul di dunia ini. Semua jamaah terdiam, hening, sepi dan mata para sahabat berkaca-kaca. Tak ada yang mampu menatap keadaan Rasulullah SAW yang semakin lemah. Bahkan, Umar bin Khaththab r.a., Si Singa Padang Pasir pun ikut menahan tangisnya sehingga dadanya sesak. Ini semacam isyarat yang sukar untuk dilukiskan….
Lalu, ketika matahari kian meninggi, di rumah yang sederhana itu suasana terasa hening. Tak seperti biasanya, pintu rumah kecil itu masih tertutup, sedang di dalamnya terbujur lemah sang kekasih Allah, Muhammad SAW.
Kening Rasul tampak berkeringat hingga membasahi pelepah kurma yang dijadikan alas tidurnya. Keheningan terusik, ketika tiba-tiba dari luar terdengar suara orang mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” suara itu terdengar begitu sopan. Fatimah Az-Zahra, putri tercinta tak mengizinkan orang itu masuk, karena ayahanda dalam keadaan sakit, “Maafkan, ayahku sedang demam.”
Fatimah kembali menemani ayahanda yang ternyata sudah membuka matanya seraya bertanya, “Siapakah itu wahai anakku?” “Aku tak tahu ayahanda, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” jawab Fatimah lembut.
Rasulullah SAW menatap wajah putrinya dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang. Beliau bergumam lirih, “Ketahuilah putriku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah Malakul-Maut!”
Hmmmm….
Hmmmmm…
Saya tak bisa membayangkan bagaimana kejadian ini berlangsung. Pasti Fatimah sedang menahan ledakan tangis yang luar biasa. Kita yang telah berjarak 14 abad tahun saja masih merasa sesak mendengar kisah kematian Rasulullah SAW, apalagi Fatimah yang menyaksikan sendiri bagaimana Malaikat Maut datang menghampiri ayah tercinta.
Betapa agungnya Rasululllah hingga Malaikat Maut pun datang menjalankan tugasnya dengan menyampaikan salam memohon izin untuk masuk ke rumahnya?! Apakah ada makhluk lain yang mendapatkan pelayanan istimewa seperti ini? Wahai Rasulullah SAW, saya ingin membayangkan bisa hadir dan merasakan secara langsung detik-detik semacam ini. Duduk di sampingmu, lalu melihat, memegang tanganmu, larut dalam duka dan menyaksikan wajamu, ya Rasul….
Lalu…
Malaikat itu pun berjalan perlahan menghampiri tubuh lemah sang kekasih Allah.
Nabi Muhammad SAW bertanya, mengapa Jibril tak ikut menyertainya? Mengapa dia tak kau ajak? Malaikat maut menjawab bahwa Jibril sedang bersiap-siap di atas langit dunia untuk menyambut ruh suci kekasih Allah dan penghulu dunia ini. Atas permintaan Rasulullah, Malaikat Jibril pun datang menghampirinya.
Rasulullah bertanya dengan suara lirih, “Wahai Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Jibril menjawab, “Subhânallâh, pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu.”
Jawaban itu ternyata tak membuat Rasulullah SAW lega. Matanya masih menyisakan kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, wahai Rasulullah?” tanya Jibril.
Rasulullah SAW bertanya lagi, “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku, ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,’ jawab Jibril.
Jawaban inilah yang berhasil melegakan Sang Rasul. Sungguh, seorang Nabi yang benar-benar lebih mengutamakan umatnya. Meskipun beliau telah mendapat jaminan surga, mempunyai kedudukan tertinggi sebagai manusia, namun beliau tetap lebih mengutamakan umatnya di tengah sakaratul maut yang dihadapinya.
Waktu terus berjalan…..
Detik demi detik.
Kini saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah SAW ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, kening beliau berkeringat, urat-urat lehernya menegang, tanda beliau sedang menahan sakit.
“Wahai Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini,” ucap Rasulullah SAW mengaduh.
Fatimah pun terpejam tak kuasa melihat ayahnya. Sahabat Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam, sedangkan Malaikat Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu wahai Jibril?” tanya Rasulullah SAW kepada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” jawab Jibril.
Lalu, terdengar suara Rasulullah SAW menjerit, karena sakit yang dialami.
“Ya Allah, sungguh dahsyat rasa maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”
Hmmmmm….
Hmmm…Sukar sekali melanjutkan cerita seperti ini. Saya tak kuasa menahan tangis. Sungguh sangat mulia dan luhur engkau Ya Rasulullah hingga kau ingin menanggung semua rasa sakit kematian yang dirasakan seluruh umatmu…
Tubuh Rasulullah SAW mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Sahabat Ali segera mendekatkan telinganya. “Ûshîkum bis-shalah, wa mâ malakat aimanukum (Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu)”
Sementara itu, di luar rumah, tampak tangis mulai terdengar bersahutan. Para sahabat saling berpelukan. Umar bin Khathab r.a. tak percaya akan kematian ini. Abu Bakar Ash-Shiddiq sibuk menenangkan para sahabat dan umat yang seakan tak percaya ditinggal oleh sang kekasih Allah.
Fatimah Az-Zahra menutup wajah dengan tangan mungilnya, sedangkan Ali bin Abi Thalib mendekatkan telinga ke bibir Rasulullah SAW yang mulai kebiruan. “Ummatî, ummatî, ummatî?” terdengar begitu lirih dan lembut.
Hmmmm….
Hmmmmm.
Sungguh tak ada kisah kematian yang sanggup membuat jantung berdebar dan membuat tangisan seperti ini, kecuali mendengar dan membayangkan detik-detik kematian Rasululllah SAW.
Allah Swt. berfirman, “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi,” (QS Al-Ahzab [33]: 45-46).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s