Dari NII Ke Terorisme

Image

Foto: Repro buku “Dari NII ke JI” karya Solahuddin
Abdullah Sunkar dan Abu Bakar Baasyir, dua pendiri Jamaah Islamiyah, saat menjalani persidangan pada tahun 1983

Aksi terorisme di Republik ini memiliki akar sejarah yang panjang. Pada masa awal kemerdekaan hingga akhir masa kepemimpunan Presiden Soekarno, muncul gerakan-gerakan sipil bersenjata yang menghalalkan aksi kekerasan untuk mewujudkan visi dan misinya.

Namun skala tujuan dari seluruh gerakan tersebut masih bersifat lokal, kedaerahan, atau paling tinggi nasional, yakni ingin mengubah dasar Negara atau bentuk NKRI. NII misalnya, mereka ingin mengubah Indonesia menjadi Negara Islam. Atau PKI yang ingin mengubah Pancasila dengan komunisme. Kedua kelompok tersebut lantas memberontak terhadap pemerintahan Presiden Soekarno.

Ini berbeda dengan aksi terorisme yang berlangsung sejak dasawarsa tahun 2000. Di mana kelompok-kelompok menjalankan aksinya dengan tujuan perlawanan terhadap hegemoni dan penindasan Barat di Negara-negara berpenduduk mayoritas muslim di dunia, termasuk Indonesia.

Dari hasil penyelidikan, polisi mengungkap bahwa pelaku terorisme itu adalah anggota-anggota Jamaah Islamiyah (JI) dan simpatisannya. Jika ditelusuri lebih jauh lagi, para pioner JI adalah eks anggota NII.

Untuk mendedahkan sekilas perjalanan NII tempo doeloe hingga keterlibatan eks NII dalam aksi terorisme mutakhir, termasuk pertumbuhan ideologi salafisme jihadisme yang menjadi landasan teologis aksi terorisme di Indonesia, Lazuardi Birru mewawancara Nasir Abas, bekas angota NII dan Mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah, beberapa waktu lalu. Laporan hasil wawancara tersebut dinarasikan secara bersambung. Berikut penuturan penulis buku “Membongkar Jamaah Islamiyah” itu.

Faham salafisme jihadisme mulai bertumbuh subur di Indonesia sejak kepulangan eks mujahidin Afghanistan ke tanah air pada 1986. Salah satu alumni generasi pertama yang hingga kini masih aktif di pergerakan adalah Laode Ida Agus Salim alias Syawal, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) DKI Jakarta.

Kendati ideologi salafisme jihadisme terus menguat di kalangan kelompok JI, hal itu tidak serta merta memicu aksi-aksi teror, padahal pada tahun 1987 sudah ada 59 alumni yang kembali ke Indonesia. Hal itu lantaran tidak ada instruksi dari Ajengan Masduki (Imam Besar NII kala itu) untuk melakukan aksi militer.

Beberapa alumni yang tidak sabar sempat berceletuk, “Kita ini terus bikin gerbong, tapi nggak punya relnya. Bisa-bisa gerbongnya karatan ini.” Mereka ingin mengaplikasikan ilmunya tapi loyalitas kepada Imam NII menahan hasrat.

Dalam hal kemampuan, lulusan tahun 1980-an dan 1990-an awal selevel dengan Noordin M. Top dan Dr. Azhari. Teori merakit bom sebesar apa pun, sudah diajarkan di Akademi Militer Afghanistan. Bahkan sebelum ada telepon seluler, kami sudah mempelajari teknik meledakkan bom melalui HT (Handi Talkie).

Artinya, berbekal kemampuan itu, alumni Afghanistan angkatan awal bisa melakukan aksi-aksi teror jika elit NII kala itu memberi komando. Bahkan hingga NII terpecah dengan berdirinya Jamaah Islamiyah (JI) yang dipelopori Abdullah Sunkar dan Abu Bakar Baasyir, aksi teror belum dilakukan Indonesia lantaran tidak ada instruksi dari Amir JI.

Tampuk puncak kepemimpinan JI saat itu dipegang Ustadz Abdullah Sunkar alias Abdul Halim (Alm), pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo yang melarikan diri ke Malaysia untuk menghindari hukuman penjara dari rezim orde baru. Beliau dianggap melakukan tindak subversif lantaran menolak regulasi asas tunggal Pancasila.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s