Menginjeksi Virus Teror Generasi Pelajar

ImageSuntikan doktrin teror di kalangan pelajar makin menyedot perhatian. Sejumlah riset, empat tahun terakhir, saling menguatkan bahwa wabah ekstremisme di sekolah kian membikin resah. Aktor teror berusia belia muncul bersusulan.

Salah satu buktinya adalah Arga Wiratama. Siswa SMK Negeri 2 Klaten, Jawa Tengah, ini divonis Pengadilan Negeri (PN) Klaten, 7 April lalu, karena dituding ikut dalam aksi teror. Kasus yang menimpa remaja 17 tahun ini menambah daftar catatan keterlibatan pelajar dalam operasi tersebut.

Simpul Klaten penting menjadi contoh terkini. Tiga siswa kelas IV dan III alumnus sekolah kejuruan itu diciduk Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri, Januari silam. Arga Wiratama, siswa teknik mesin yang divonis paling awal, adalah anggota termuda. Sel Klaten dijerat dengan sangkaan menaruh bom di tujuh lokasi se-Klaten, mulai Desember 2010 sampai Januari 2011. Ada dua pos polisi, tiga gereja, satu masjid, dan satu lokasi ritual sebar apem ya qowiyyu.

Kasus Klaten bukan teroris pelajar pertama. Dua tahun lalu, pengebom bunuh diri Hotel JW Marriott Jakarta, 17 Juli 2009, adalah pelajar SMA Yadika 7, Parung, Bogor. Namanya, Dani Dwi Permana, yang ketika itu berusia 18 tahun. Namun simpul Klaten tetap penting dicermati, karena siswa yang terlibat lebih banyak. Mereka kebetulan sesama aktivis kegiatan ekstrakurikuler kerohanian Islam (rohis).

Bagaimana alur rekrutmen dan indoktrinasi masuk sekolah, bisa ditelisik dari kiprah Agung Jati Santoso, 21 tahun, alumnus SMKN 2 Klaten. Dalam laporan International Crisis Group (ICG), terbitan 19 April lalu, Agung digambarkan sebagai pintu masuk pertama yang menularkan doktrin teror kepada teman seangkatan dan adik kelasnya di rohis SMK itu.

Agung lulus pada medio 2010. April tahun lalu, menjelang ujian akhir, Agung terlihat banyak berubah. Kepada ibunya, Siti Lestari, ia minta celananya dipotong di atas mata kaki. “Supaya nggak kena najis,” kata Agung, seperti dituturkan Siti.

Pada saat upacara bendera, Agung menolak memberi hormat kepada bendera Merah-Putih. “Cuma gombal saja dihormati,” kata Agung. Ketika wisuda kelulusan, Agung tak berangkat. “Kuwi nggo opo (itu buat apa),” Agung beralasan. Sesudah lulus, Agung tak mau mengurus surat keterangan catatan kepolisian, sebagaimana teman-temannya, sebagai syarat melamar pekerjaan.

Meski berpendirian keras, Agung tidak kasar kepada orangtuanya. Berbeda dari bomber Cirebon, Muchamad Syarif, yang dikenal sering melawan orangtua. Bagi Siti, Agung tak pernah bohong, apalagi membantah orangtua. Ayah Agung, Subandi, bekerja sebagai juru kunci makam. Rumahnya masih menyewa, meski mereka warga asli Dusun Krapyak, Sunggingan, Merbung, Klaten.

Skenario teror Agung dan kelompoknya berasal dari ajakan Roki Aprisdianto alias Atok, 28 tahun. Roki berprofesi sebagai tukang parkir di Mal Solo Square, Purwosari, Surakarta. Ia satu-satunya dari tujuh tangkapan polisi yang bukan siswa SMKN 2 Klaten. Pemuda asal Sukoharjo itu ditangkap lebih dulu, kemudian menjalar ke enam siswa dan alumni SMK itu.

Selain aktivis rohis, mereka sama-sama aktif di corps dakwah sekolah (CDC). Menurut laporan ICG yang merujuk pada berkas pemeriksaan Agung dan Yuda Anggoro, dalam kegiatan CDS, mereka secara berkala menonton video kisah perjuangan di Palestina, Afghanistan, dan daerah konflik lain. Ini masih pengajian biasa.

Rutinitas kunci yang menajamkan visi radikal mereka mulai terjadi pada pertengahan 2009. Mereka ikut pengajian Ustad Mus’ab Abdul Ghaffar alias Darwo, orator berapi-api dan pengagum Osama bin Laden. Lokasinya di masjid Dusun Krapyak, dekat rumah Agung.

Di forum Darwo itu, Agung kenal Atok. Pada Oktober 2009, Darwo dilarang berceramah di masjid oleh warga karena terlalu keras. Darwo pindah ke rumahnya. Materinya seputar kebencian pada kaum Kristen, yang dinilai bertanggung jawab atas pembantaian kaum muslim di Irak dan Afghanistan.

Pada dinamika lain, Atok berkenalan dengan pengajian lebih radikal di Purwosari, Solo. Di sana, Atok bertemu Joko Jihad asal Laweyan, Solo, mantan napi yang punya pertalian dengan Noor Din Mohd. Top. Joko Jihad tahu bahwa Atok mantan perekrut andalan Darul Islam (DI).

Atok direkrut DI ketika masih menjadi pelajar SMP di Wonogiri pada 1997. Pada waktu itu, ia berusia 15 tahun. Jalan hidupnya penuh pergulatan. Ayahnya masuk Kristen. Atok justru makin aktif dalam kegiatan keislaman. Ia jadi perekrut DI di kalangan pelajar.

Tapi, pada 2008, Atok keluar dari DI. Ia kecewa, infak bulanannya dikorupsi pimpinan DI. Dengan rekam jejak ini, Joko Jihad mendorong Atok memaksimalkan kemampuan rekrutmennya mengajak banyak orang ke medan jihad. Atok terpacu dan mengontak Agung, teman pengajiannya bersama Ustad Darwo, Desember 2009.

Agung mengundang 13 teman sekolahnya untuk bertemu Atok di masjid sekolahnya. Dalam pertemuan setengah jam itu, Atok menawarkan untuk menerapkan ajaran Darwo: amaliyah jihad. Bila Darwo hanya menyampaikan konsep, Atok yang merancang aksi.

Pada Januari 2010, digelar pertemuan lanjutan. Mereka sepakat membentuk Tim Ightiyalat. Artinya, tim operasi pembunuhan mendadak. Atok menjadi amir tim. Kelompok Agung dinamakan Sel Klaten dan dipimpin seseorang bernama Irfan.

Atok mengirim Irfan belajar meracik bom pada Soghir, murid Azahari, yang pernah ditahan karena kasus bom Kedutaan Australia (2004). Inilah pertalian dengan aktor teror lama. Irfan mengajarkan skill bom pada Atok dan anggota Tim Ightiyalat.

Soghir ditangkap polisi pada Juni 2010. Jaringan agak goyang. Atok memperkuat dengan mencari partner baru, kelompok pimpinan Sigit Qurdawi. Sigit belakangan dibekuk polisi sebagai otak bom Cirebon. Sigit ditembak mati, Sabtu pekan lalu, di Sukoharjo. Ia terekam video sedang melatih Syarif, pengebom masjid Cirebon.

Menurut berkas pemeriksaan Atok yang dikutip ICG, pada November 2010 Atok bekerja sama dengan tim Sigit, yang berbasis di Semanggi, Solo. Tim Sigit semula tidak berorientasi teror –hanya pejuang penegakan syariat. Setelah didekati Atok, Sigit mau bersinergi menyerang polisi. Atok melatih beberapa anggota Tim Hisbah pimpinan Sigit.

Petualangan Atok inilah yang menyeret sejumlah pelajar. Arga Wiratama menyesal bergabung dengan jaringan Atok. Dalam putusan PN Klaten, Arga menyatakan berniat keluar sejak meletakkan bom di Jatinom. Tapi Arga keburu ditangkap.

Usai vonis dua tahun penjara dibacakan, Arga mengatakan kepada pers: “Saya sudah mendapatkan hikmahnya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya. Saya berharap, apa yang saya lakukan ini tidak ditiru adik-adik kelas saya.”

Gatra mendatangi masjid di Dusun Krapyak, Senin pekan lalu. Imam masjid ini, Mugiyono, tak pernah mendengar nama Ustad Darwo atau Musab Abdul Ghaffar. Begitu pula pengurus dua masjid terdekat lainnya. Orangtua Agung juga tidak tahu. Setahu mereka, yang menunjukkan rumah Agung adalah Atok.

Guru dan pembina Rohis SMKN 2 Klaten, Sri Joko Pamungkas, bilang bahwa sebelumnya pimpinan sekolah melepas kegiatan rohis. Ia tidak tahu bahwa siswa akan mengarah pada aksi teror. Para siswa, kata Sri Joko, juga aktif dalam kegiatan agama di luar sekolah. “Memonitornya susah,” ujarnya.

Ketua Rohis SMKN 2 Klaten, Abu Khoiri, juga mengutarakan bahwa penampilan seniornya tak berbeda dalam belajar agama di sekolah. Tetapi, “Semangat belajar agamanya lebih tinggi,” kata Khoiri. Mereka sering menggelar kajian agama di masjid sekolah dan beberapa kali mendatangkan ustad dari luar.

 

Aktor teror dari elemen pelajar yang pertama mengejutkan adalah Dani Dwi Permana, bomber Marriott II, 2009. Pelajar Klaten hanya merakit dan menaruh bom, Dani mengorbankan nyawa. Modus jaringan yang menggerakkan Dani juga lebih matang. Dani disusupkan ke dalam hotel dan sempat bermalam.

Proses rekrutmen Dani sempat membuat shock lingkungan dekatnya, baik di sekolah, keluarga, maupun sesama aktivis remaja masjid di Perumahan Telaga Kahuripan, Parung, Bogor. Radikalisme siswa SMA Yadika 7 Parung ini disuntikkan Syaifuddin Zuhri, alumnus Yaman. Syaifuddin bertetangga dengan Dani. Keduanya berkenalan di Masjid As-Surur kompleks perumahan itu.

Wajar bila teman sekolahnya tidak menduga. SMA Yadika, pada saat dikunjungi Gatra pekan lalu, terkesan tertutup. Beberapa siswa dan guru pembina rohis menolak dimintai keterangan tentang kebijakan baru SMA ini pasca-kasus Dani.

Jangankan pihak sekolah, jamaah Masjid As-Surur juga tidak sadar bahwa Dani telah digembleng sedemikian matang. “Itu lebih akibat hubungan personal Dani dan Syaifuddin,” kata Muhdil Anam, Ketua DKM Masjid As-Surur, kepada Gandhi Achmad dari Gatra. “Tindakan radikalnya bukan karena menjadi jamaah masjid,” ungkap lulusan Pondok Gontor tahun 2003 itu.

 

Pelajar rentan rekrutan terorisme bukan hanya dari sekolah umum. Siswa madrasah pun bisa kena. Aip Hidayat, pengebom Bali II, Oktober 2005, mengalami radikalisasi ketika duduk di Madrasah Aliyah (MA) Pesantren Assalam Cokroaminoto, Maja, Majalengka. Aip lulus MA tahun 2003 dan mengajar di pesantren itu sampai Januari 2005. Ketika tewas di Bali, usianya 21 tahun, sepantaran jaringan Klaten pada saat ini.

Perekrutnya, Salik Firdaus, orang luar yang intensif berdiskusi dengan Aip secara informal. Salik juga salah satu bomber Bali II. Pada waktu ia mengebom, umurnya 24 tahun. Salik berjualan batik di Pasar Cikijing, Majalengka, sejak selesai nyantri di Pesantren Darus Syahadah, Boyolali, pada 2002.

Pesantren Darus Syahadah mirip Pesantren Ngruki, Sukoharjo. Beberapa alumninya terlibat aksi teror. Sembari bekerja di Pasar Cikijing, Salik kerap bertandang ke Pesantren Assalam, berdiskusi dengan beberapa santri, khususnya Aip.

Salik dekat dengan pimpinan Pesantren dan Madrasah Assalam ketika itu, Ruli Herdiansyah, alumnus Pesantren Ngruki. Pasca-bom Bali II, Ruli dan kelompoknya dipecat dari Pesantren Assalam.

“Salik bukan pengajar, tapi sering berdiskusi dengan santri. Sepertinya dia dekat dengan Ruli,” kata teman seangkatan Aip Hidayat yang menolak disebut namanya. Salik tidak pernah menggelar diskusi terbuka. “Terbatas dengan satu-dua santri saja,” katanya.

Metode ini efektif menjerat Aip. Selain itu, iklim pembelajaran di madrasah pada periode kepemimpinan Ruli, menurut sumber itu, amat menekankan jihad. “Ajaran itu mencengangkan kami yang muda-muda. Kisah-kisah heroik jihad dan Barat sebagai musuh sering diceritakan,” tutur pemuda itu.

Tapi, seiring dengan munculnya nama Salik dan Aip sebagai tersangka pengeboman, “Saya dan beberapa teman jadi ketakutan. Orangtua memindahkan saya ke pesantren moderat. Nilai-nilai yang dulu saya yakini diluruskan,” katanya.

Pimpinan Pesantren Assalam pada saat ini, KH Nurudin, menyatakan bahwa sebelum 2005, masuk Assalam tanpa saringan. “Dulu terlalu bebas. Berbagai paham ada,” ujarnya. Dari yang keras, moderat, hingga tradisional. “Tujuannya, agar pengetahuan anak didik cukup. Rupanya menjadi blunder,” ia menambahkan.

Mulanya, pada 1999, masuk Ruli Herdiansyah, putra seorang pengurus yayasan. Ruli dikenal keras. Hanya dalam tempo tiga bulan, Ruli dipercaya menjadi pimpinan pesantren. Nurudin, yang pada saat itu menjadi kepala pondok, dimutasikan. Nurudin akhirnya mengundurkan diri. Pada fase Ruli inilah, cara pandang radikal dikembangkan. Banyak ustad baru direkrut tanpa konsultasi dengan yayasan.

“Aip masuk sini (2000) pas sudah ada Ruli,” kata Jauhari, pengurus yayasan seksi pendidikan. Jauhari yakin, Aip terkontaminasi virus radikal ketika di luar pesantren. Jauhari menilai, Salik melakukan pendekatan makin intensif kepada Aip setelah santri asal Ciamis itu lulus. Nurudin menyangkal anggapan bahwa indoktrinasi Salik dilakukan kepada seluruh siswa Assalam. Salik mendekati siswa satu per satu. “Salah satunya Aip terbawa,” kata Nurudin.

 

Madrasah lain yang alumnusnya terlibat teror adalah MAN 1 Serang, Banten. Di sana, Imam Samudra, koordinator lapangan bom Bali I, 2002, pernah menjadi ketua OSIS. Memang Imam terbelit dalam kelompok teror ketika merantau ke Afghanistan selepas sekolah, 1990. Tapi radikalismenya tertanam sejak di MAN.

Pada saat itu, rekrutmen siswa dalam gerakan Negara Islam Indonesia (NII) amat gencar. Menurut Nanang Haroni, mantan adik kelas Imam, NII ketika itu berebut pengaruh dengan Ikhwanul Muslimin (IM) yang kini menjadi basis PKS. Nanang pernah aktif di IM, lalu bergabung ke NII.

Rekrutmen itu dilakukan elemen luar. Tapi di kalangan guru juga ada yang masuk NII, IM, atau nasionalis tulen. Menurut Masmin, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, sebelum 1995, banyak siswa yang menolak upacara bendera. Namun, bila di sekolah lain radikalisme menguat, setelah 1995, iklim radikal di MAN I Serang menyusut.

Menurut Kepala MAN I Serang, Uus Kadarusman, salah satu faktornya: akibat masuknya gelombang guru muda berpandangan moderat. Guru-guru tua beraliran keras pada pensiun. Faktor lain, NII terpecah dalam berbagai faksi akibat perebutan jatah ekonomi. Konflik internal ini membuat kaderisasi NII macet. Generasi Imam Samudra pun kehilangan jejak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s