Hukum Harus Tegak Menghadapi Kekerasan

ImageSeluruh aksi kekerasan, termasuk yang mengatasnamakan agama, adalah tindakan kriminal sehingga pelakunya dapat dijerat hukum pidana. Hari ini, salah satu terdakwa pelaku kekerasan anti-Syiah di Sampang Jawa Timur divonis hukuman 8 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Surabaya.

Dalam menghadapi kasus kekerasan atas nama agama, penegak hukum kerapkali bersikap gamang. Dalam kasus Sampang misalnya, para aktor yang terlibat baru dijerat hukum setelah kekerasan itu terulang kedua kalinya. Bentrokan yang melibatkan kaum Sunni dan penganut Syiah itu meletus pada Desember 2011 dan Agustus 2012.

“Sebagian penguasa lokal tampak melakukan pembiaran terhadap kekerasan atas nama agama. Sebab ia dan partai politiknya dapat meraih simpati dari mayoritas masyarakat di luar kelompok kecil yang tertindas,” terang Prof. Dr. Syafiq A Mughni, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah kepada Lazuardi Birru saat berbincang seputar problem kekerasan atas nama agama di Indonesia.

Menurut dia, pembiaran tersebut akan memperburuk citra Indonesia di mata internasional karena kita dinilai gagal mengimplementasikan The Universal Declaration of Human Right misalnya. Deklarasi itu merupakan konvensi global yang sudah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia, sehingga mau tak mau pemerintah harus menjunjung tinggi.

“Secara yuridis apa yang dimiliki Indonesia sudah paralel dengan prinsip-prinsip penegakan hukum hak asasi manusia internasional. Tetapi karena ada kepentingan-kepentingan politik tertentu, membuat masalah menjadi ruwet,” ujarnya.

Mengenai adanya keluhan sebagian tokoh agama yang merasa terganggu atas kehadiran kelompok keagamaan baru seperti Syiah, mantan Ketua Umum Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur itu tidak menampiknya. Namun baginya, kehadiran kelompok baru merupakan tantangan dakwah bagi Ormas-ormas Islam terutama Muhammadiyah dan NU.

“Dua Ormas tradisional ini harus menunjukkan jati dirinya sebagai Ormas dewasa yang cerdas dan tampil menawan sehingga orang lebih tertarik untuk menjadi jamaah Muhammadiyah atau NU ketimbang menjadi Ahmadiyah atau Syiah,” katanya.

Kendati demikian, sambung Guru Besar sejarah IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, jika ada warga yang tetap memilih mengikuti Syiah atau Ahmadiyah, ya harus dihormati. “Kita tetap bersahabat, berdiskusi, dan saling menimba pengalaman tanpa mengganggu persoalan mazhab keagamaan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s